jump to navigation

Mati Ketawa Cara (Daripada) Soeharto June 16, 2009

Posted by mbintanghp in somethin' stupid.
Tags: , , , ,
trackback

ehm!!,,

sekali lagi, hidup ITB! gudang multimedia!!

kemaren dapet ebook ngaco.. isinya lawakan-lawakan lawas dengan objek masa pemerintahan orde baru.. judulnya ‘Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto‘,,

bisa diunduh di sini,,

nih saya kutip beberapa.. ada yg udah pernah baca tapi tetep ngaco buat dibaca.. hehe pis gan..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tiga Tipe Manusia Indonesia

Ada tiga ciri menonjol dari orang Indonesia di bawah Orde Baru, yaitu: jujur, pintar dan pro pemerintah. Tapi sayangnya manusia Indonesia hanya boleh memiliki dua ciri.

Artinya manusia Indonesia itu cuma ada tiga macam: Pertama, kalau dia jujur dan pro pemerintah biasanya tidak pintar; ke dua, kalau dia pintar dan pro pemerintah biasanya tidak jujur; ke tiga, kalau dia jujur dan pintar biasanya tidak pro pemerintah.
.
.

Jendral Kuper

Tersebutlah tiga orang bersaudara. Seorang buruh tani dari Siantar, seorang konglomerat, dan seorang jenderal masih bersaudara. Sang konglomerat mengajak mereka ke restoran “steak” yang terkenal di Jakarta. Tapi mereka datang agak terlambat.

Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.
“Maaf, kami kekurangan daging impor,” kata sang pelayan.

Buruh tani bertanya, “Daging impor itu apa, sih?”
Si konglomerat bertanya, “Kekurangan itu apa?”
Sedangkan si jenderal bertanya, “Maaf itu apa?”
.
.

Teka-teki Suksesi

Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.

Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh  Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat: “Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”

Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.

Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.
“Pak Harmoko,’’ kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”. Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga. Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”

Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”

Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. “Jadi tadi petunjuknya …eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”. Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”

Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.

Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”
.
.

Beli Televisi Minus Harmoko

Dua tahun lalu penjualan pesawat televisi di kawasan Maluku dan Irian menurun drastis. Pengamatan empirik ini membuat sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi suatu perguruan tinggi di Maluku melakukan survey untuk mengetahui sebab menurunnya penjualan pesawat televisi di Maluku dan Irian.

Hasilnya, para konsumen membatalkan membeli pesawat televisi karena mereka selalu menanyakan kepada si pemilik toko, ‘‘Apakah ada pesawat televisi yang tidak ada siaran pidatonya Harmoko?”
.
.

Sirkus

Seorang penjinak singa yang gagah perkasa muncul dengan seekor singa yang besar. Pengunjung menyaksikannya dengan berdebar-debar. Ia bisa memerintahkan singa itu melakukan segala sesuatu. Yang ajaib ialah bahwa ia berani memukul kepala si hewan dengan martil kecil, sebagai isyarat perintah. Dan si singa tidak marah, sudah jinak barangkali. Benar-benar patuh: berdiri, menari, atau bahkan juga mencium pantat si penjinak.

Di adegan terakhir si penjinak sirkus tambah nekad. Ia memukul kepala singa dengan martil lagi dan si singa itu membuka rahangnya lebar-lebar. Puncaknya adalah ketika si penjinak singa membuka celananya lantas kemaluannya dimasukkan ke mulut binatang itu. Penjinak memukul kepalanya sekali lagi. Apa yang terjadi?

Si raja hutan lantas membuka moncongnya kembali, tapi lihatlah, hai, penonton: zakar si penjinak itu masih tetap utuh, sehat, dan segar. Penontonpun bertepuk sorak, gembira tidak henti-hentinya, sampai Kris Biantoro, MC pertunjukan sirkus itu, muncul ke panggung dan berkata: “Bukan main! Hebat sekali! Saya tantang, para hadirin, siapa di antara para hadirin yang berani melakukan adegan terakhir itu sekarang juga? Siapa yang berani, kami beri tiket pesawat gratis dari Jakarta ke Las Vegas pulang-pergi.”

Penonton senyap beberapa menit. Tiba-tiba terdengar suara dari hadirin. Yang muncul Habibie. Ia naik pentas dan berkata lantang: “Saya berani melakukannya! Tapi dengan syarat!”.

Kris Biantoro kaget: “Benar nih? Apa syaratnya?”

Habibie: “Syaratnya: kepala saya ndak usah dipukul martil setiap kali, dan singanya disingkirkan dulu.”

Comments»

1. Andriy - June 16, 2009

pertamaxxxx…!!
Mas,… pdf`nya ga bisa diunduh tuh… T_T

bintang - June 16, 2009

sori ternyata corrupt tadi.. dah saya upload ulang :D

2. tejo - June 16, 2009

hehehe, boleh juga rong.

Hati-hati, nanti kena UU Pencemaran Nama Baik, hahaha.

Andriy - June 16, 2009

ga lah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: